Bus Lane, Sarana Transportasi Massal Baru di Bandung

Bagi warga kota Bandung dan sekitarnya, pastilah dua minggu belakangan ini mendengar kata BUS LANE, sarana transportasi massal hasil kerjasama Pemerintah Kota Bandung dan Dirjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan RI.

Rencananya Bus Lane akan dibangun dalam 4 trase, trase pertama, jalur Cibeureum (Jalan Elang) – Cibiru melalui Jalan Soekarno Hatta (By Pass), direncanakan akan ada 21 Bus yang beroperasi Desember 2006 ini. Trase berikutnya adalah melalui Jalur A.Yani (Cicaheum – Alun-alun), jalur Ledeng (Setiabudhi) – Leuwi Panjang akan menjadi trase ke-3 dan jalur Lingkar Selatan sebagai trase ke-4. Ketiga jalur terakhir ini cukup padat dan memiliki jalur yang sempit.

Menurut Dada Rosada, Bus Lane ini dibuat sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi kemacetan di kota Bandung, dari dua alternatif selain membangun jalur khusus sepeda.

Sistem Bus Lane yang akan diterapkan di Bandung ini kurang jelas jika dilihat dari tautan yang saya berikan diatas, apakah ia akan membangun lajur sendiri seperti Bus Way di Jakarta? atau ia hanyalah sebagai salah satu angkutan alternatif dengan mempergunakan lajur yang sudah ada?

Mengurangi kemacetan di kota Bandung sebetulnya bisa dilakukan dari mengurangi jumlah angkutan perkotaan jenis carry / kijang dan menggantinya ke model Bus Lane seperti ini, karena menurut saya penggunaan kendaraan jenis carry/kijang sebagai angkot selain tidak efisien dari segi waktu dan penggunaan bahan bakar kebanyakan dari mereka berhenti seenaknya dipinggir jalan dan memacetkan arus lalu lintas yang ada, bahkan bisa mencelakakan orang lain jika dipadukan dengan pengemudi mobil lain yang sembrono. Pemerintah juga bisa meregenerasi bus Damri yang sudah tua dan menciptakan sebuah efisiensi kerja dari orang-orang yang bekerja di Damri, ini juga bisa dijadikan proyek. Selain Pemerintah Kota Bandung harus menata ulang ruas jalan baik itu jalur dan arah, serta penataan kota dimana banyak sekali penyalah gunaan jalur tertentu (terutama jalur Ir.H.Juanda Dago dan R.E.Martadinata) yang semula kawasan pemukiman tetapi dijadikan sentra bisnis.

Membuat jalur khusus sepeda, tentu saja merupakan hal yang sepatutnya didukung 100%, karena bersepeda selain menghemat bahan bakar, juga bisa menjadi sarana alternatif untuk mencegah naiknya berat badan, dan alangkah bijaknya lagi jika Pemerintah Kota Bandung mau memperbaiki trotoar yang ada, karena banyak dari trotoar ini yang disalahgunakan sebagai sarana mencari nafkah oleh pedagang kaki lima, atau kondisi trotoar yang tidak layak pakai dan bisa mencelakakan penggunanya jika berjalan dimalam hari.

Hari ini saya seperti biasa melintas di bawah jembatan layang PasPati, di perlimaan Dago-Cikapayang pengaturan lampu merah sudah lebih manusiawi, sudah terbagi 4 moda lampu merah dimana sebelumnya hanya 3 moda sehingga bisa menimbulkan kecelakaan, amat disayangkan lajur Dago Cikapayang – Sulanjana yang jaraknya terlalu sempit, hanya sekitar 200 meter menjadi pemicu kemacetan ketika terjadi lampu merah.

Dari diskusi Saya dan Vini, 4 atau 5 bulan lalu, pemerintah sebetulnya bisa mengurangi kemacetan jalur Ir.H Juanda – Merdeka dengan cara membalik arah, jika saat ini menuju arah selatan (dari BIP ke Balai Kota), membalik jalur ke arah utara bisa mengurangi kemacetan, mungkin suatu saat Vini bisa menjelaskan lebih detail lagi di blognya?

Setidaknya proyek seperti ini bisa membuat orang-orang yang bekerja di Pemerintahan Kota Bandung sedikit berkeringat, mengurangi berat badan, atau malah bertambah berat badannya?

Comments

17 responses to “Bus Lane, Sarana Transportasi Massal Baru di Bandung”

  1. agus purwoko Avatar

    Setidaknya ada solusi untuk tidak menjadikan jalan 2 arah menjadi 1 arah lagi di Bandung … hehehe…

  2. basibanget Avatar

    ini lg bahas bus apa ikan sih
    koq pake trase segala

  3. preaxz Avatar

    Wuehehehe .. asal nggak bernaisb seperti PITWAY di jogja

  4. andriansah Avatar

    KENAPA GW DIBAWA SEBAGAI YANG BERAT BADANNYA?

    TENDANG2 1948X

  5. Hendy Irawan Avatar

    Oh bandung…

    BTW links di sini koq blinking yach?? Apa emang disengaja seperti itu???

    (Firefox 2.0 on Kubuntu Edgy)

  6. Rizki Avatar

    Kayaknya kalo dibikin jalur baru malah bikin macet dah, secara jalanan di bandung rata-rata maksimal cuman 4jalur bolak-balik

  7. Brahmasta Avatar

    Setuju sih kalo angkot tidak efektif, jalur buat sepeda? Wah baru denger tuh. Bagus juga..

  8. Oskar Syahbana Avatar

    Ya elah ngurus sampah aja belom becus udah mau ngurusin yang beginian…

  9. Syafrudin Avatar
    Syafrudin

    Issue Bus-Lane seingat saya sudah sekitar dua tahun lalu mengemuka, menyusul setelah issue tentang solusi Monorel, LRT (Light Rail Transit), atau Busway. Kalau saya cermati, ada beberapa perbedaan mendasar pengembangan transportasi Kota Bandung dan Jakarta:
    1. Setahu saya Kota Bandung belum memiliki semacam PTM / Pola Transportasi Makro seperti yang dimiliki Propinsi DKI. PTM ini berasal dari kajian mendalam, menyeluruh, dan berkelanjutan. Dari PTM, kita tahu andalan transportasi DKI di masa depan adalah keterpaduan antara KA Jabotabek (termasuk penambahan jalur ganda & KA Bandara), MRT (Lebakbulus – Fatmawati – Senayan – Dukuh Atas – Bunderan HI), Monorel (Jalur lingkar dan Bekasi – Casablanca – Tangerang), Water Bus (sungai Ciliwung dan Banjir Kanal Timur), Busway (15 koridor).
    2. Dalam melaksanakan kebijakan PTM, Pemprop DKI punya keteguhan dalam menghadapi pro-kontra di masyarakat, resistensi pengusaha angkutan “tradisional”, ataupun per-UU-an yang belum mendukung. Kita tahu bagaimana pro-kontra busway dan bagaimana situasinya sekarang. Bagaimana jika semua koridor sudah selesai ? Pasti sulit berbicara dengan pengusaha dan pengemudi angkutan “tradisional” di jalur beririsan dengan jalur busway untuk pindah ikut ke konsorsium Busway atau pindah jalur sebagai angkutan feeder. Lebih sulit memperkenalkan Monorel dan Water Bus yang belum dikenal dalam UU transportasi lama kita. Saya ragu kalau jajaran Pemkot Bandung punya keteguhan yang setara.
    3. Tentang Bus-Lane sendiri, Bus-Lane secara prinsip berbeda dengan Busway karena Bus-Lane menggunakan jalur sendiri. Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan jalur khusus Bus yang sudah belasan tahun dicoba di DKI dengan berbagai konfigurasi (pernah di jalur paling kiri, pernah di jalur tengah). Kita tahu solusi jalur khusus Bus tersebut tidak menyelesaikan masalah kemacetan. Kini Bus-Lane diujicoba di Bandung. Meskipun saya belum pernah membaca rincian lengkapnya, tapi tampaknya akan menggunakan jalur paling kanan, seperti Busway, hanya tidak ekslusif. Bus-Lane juga menggunakan bus khusus yang mirip Busway, yaitu pintunya lebar dan tidak ada tangga, sehingga menyulitkan orang untuk naik kalau tidak dari halte. Apakah solusi ini sudah cukup ? Saya sangat meragukannya. Setahu saya issue penting dalam pengelolaan transportasi ada dua: kemacetan dan pemanasan global. Jurus kunci untuk keduanya adalah mengembangkan transportasi massal di satu sisi dan membatasi mobil pribadi. Busway merupakan solusi untuk keduanya, tapi Bus-Lane tidak. Bus-Lane jelas tidak memberi disinsentif untuk mobil pribadi.
    4. Tentang Motor-Way, setahu saya itu bukan jalur ekslusif untuk Kendaraan Tak Bermotor seperti biasa yang ada di luar negeri, tapi jalur khusus untuk Roda dua dalam arti Roda dua harus lewat jalur tersebut. Namun setahu saya ini tidak ekslusif, Mobil boleh lewat jalur ini.
    5. Kesan saya secara filosofis, kebijakan transportasi Kota Bandung bukan membatasi laju pertumbuhan mobil pribadi, tapi justru memanjakan mobil pribadi, punya jalur khusus sendiri, dan bisa masuk ke jaldeur roda dua ataupun jalur bus-lane.
    6. SOlusi paling ideal untuk Bandung menurut saya Monorel. Semua tahu kota Bandung sulit menambah lahan untuk jalur baru misalnya untuk busway atau kereta / LRT biasa. Solusinya adalah subway atau kereta layang. SUbway mahal sekali dan lama pembangunannya. Sementara keberatan terhadap kereta layang biasa menutup sinar matahari dan pemandangan ke angkasa. Monorel adalah jalan tengahnya.
    (http://en.wikipedia.org/wiki/Monorail)

  10. chaidir Avatar

    klo disediakin jalur sepeda ane setuju…
    tp klo dibuat armada baru yg diharapkan untuk mengurangi jumlah kendaraan rasanya agak sulit diharapkan. coba aja liat dijakarta, tadinya kan bus transjakarta dibuat utk ngurangin jumlah pemakai kendaraan. Tapi sekarang tetep aja yg make kendaraan ga jauh beda dengan sebelumnya.

  11. sharivan Avatar

    gyakakakaka…. si andri kena lagi :p

  12. Syafrudin Avatar
    Syafrudin

    #10
    Bus Trans Jakarta belum mengurangi jumlah pemakai kendaraan pribadi ? Menurut saya sudah, tapi kalau belum terasa mungkin, karena: pertama yang sudah beroperasi baru 3 koridor dari total 15 koridor yang direncanakan; kedua karena selama pembangunan koridor busway yang tersisa, kemacetan akibat pekerjaan pembangunan tersebut akan sangat terasa.

    Untuk DKI Jakarta, angka yang biasa dikutip sebelum busway dimulai adalah:
    – 98 persen pengguna jalan menggunakan kendaraan pribadi.
    – Jumlah kendaraan bermotor 4,9 juta unit (50% roda empat) dengan pertumbuhan sekitar 14 persen per tahun (data lain menyebut 12% dan 11%).
    – Luas jalan sekitar 45 juta m2 dengan pertumbuhan sekitar 1 persen per tahun.
    – Jika dibiarkan pada tahun 2014 mendatang diprediksi akan terjadi kemacetan total.

    Sedang angka untuk kinerja Busway:
    Saat ini jumlah penumpang per hari sudah mencapai 70.000 dan 14 persen dari penumpang tersebut semula adalah pengguna kendaraan pribadi.

  13. okeu Avatar
    okeu

    nice try dude……….
    thanks 4 the info

  14. si abang Avatar
    si abang

    walah…mikirin kemacetan dan alternatif solusinya di bandung bikin jidat mengerut berlapis-lapis,mana disetiap alternatif solusinya selalu mentok dgn keterbatasan yg ada dan sangat mendasar, menurutku sih kalo masalah teknis itu dibesresin setelah masalah sosial di Bandung sudah bisa ada solusi jitu-nya. Masalah sosial yang aku maksud bisa diartikan luas. selama masalah sosial itu blm juga teratasi masalah teknis cuman jadi mubazir

  15. Ismunandar Saebani Avatar

    Biang kemacetan itu Pemda. Bukan siapa-siapa. Wong perencanaan nya aja amburadul. Cari deh, bagian mana yang harusnya taman trus jadi mall, bagian mana fasos dan fasum jadi plaza/supermarket.(bagian=baca wilayah).
    Trus dispenda dikejar setoran. Caranya yaa neken DLLAJR supaya segera mengeluarkan ijin trayek banyak2. Satu trayek harganya minimal 20juta untuk satu mobil. La, kalau angkot bandung untuk trayek tertentu dibuat 100 unit, maka dihasilkan 2M kan!
    Karena banyak angkot, banyak kendaraan pribadi, Jakarta-Bandung lebih deket dari Bandung-Cimahi.
    Cuma keki-sebel, dsb dah.

  16. rini Avatar
    rini

    cuma satu pesen aja, kalo mau bawa2 nama itb untuk nulis hal yang berkaitan dengan ilmu – dalam hal ini transportasi, tolong, baca dulu yang banyak, baru nulis, otreh!!

  17. herri Avatar

    BANDUNG JAKARTA BANDARA SH
    BANDARA HALIM PK BANDUNG
    DEPOK BANDUNG (PP)

    KANGAROO TRAVEL (RESERVASI 24 JAM)

    HOTLINE : 0813 8800 8678

    EMAIL : kangaroo_bandung@yahoo.com
    kangaroo_gading@yahoo.com
    Web Site :www.kangaroo.co.id

    Diantar dan dijemput dengan Nissan Grand Livina ( door to door ) dengan feeder Service
    sehingga penumpang sampai di tempat tujuan dengan lebih cepat dan lebih nyaman

    sopir yang ramah dan berseragam serta adanya SOP ( Standart Operation Procedur ) sehingga penumpang
    lebih terjamin, aman, serta nyaman.

    sekarang lagi ada harga promosi Rp. 50.000,- untuk pool to pool
    paket juga lagi ada promosi Rp. 20.000,- untuk pool to pool ( 2,5 jam sampai )

    Alamatnya :

    Jakarta Utara
    Komplek Ruko Inkopal Blok F 22
    Kelapa Gading ( depan Hypermart )
    Telp. 021 – 4585 1575

    Jakarta Selatan
    (Arja Tours) Jl. Tebet Raya No. 58 C
    021 – 3210 7775 / 3238 7755

    Jakarta Barat :
    Apartement Mediterania Tahap II Tower Flamboyan Tj.Duren,& Jl.Dr. Muwardi 1 No.31 Grogol Telp.(021) 9224 2555 – 7100 7555

    Depok :
    (Aristya Tr&Trv) Jl.Margonda Raya No.304 A
    (021)7764 888 – 3309 1718
    Reservasi Via SMS : 0815 161 2777
    Bandung
    Jl. Dr Junjunan (terusan Pasteur ) No. 24
    022 – 203 9494 / 204 0505

    NB: cukup hafalkan saja nomor teleponnya, anda akan diantar dan dijemput naik nissan grand livina

    TOLONG FOWARD KE TEMAN- TEMAN ANDA SEMUANYA.
    SEMOGA INFORMASI INI BISA BERMANFAAT. TERIMA (KASIH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *