Blog

  • Dies ke-48 Institut Teknologi Bandung

    Logo ITB versi RektoratInstitut Teknologi Bandung (ITB), didirikan pada tanggal 2 Maret 1959. Kampus utama ITB saat ini merupakan lokasi dari sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia. Walaupun masing-masing institusi pendidikan tinggi yang mengawali ITB memiliki karakteristik dan misi masing-masing, semuanya memberikan pengaruh dalam perkembangan yang menuju pada pendirian ITB.

    Sejarah ITB bermula seja awal abad kedua puluh, atas prakarsa masyarakat penguasa waktu itu. Gagasan mula pendirianya terutama dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama. De Techniche Hoogeschool te Bandung berdiri tanggal 3 Juli 1920 dengan satu fakultas de Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu jurusan de afdeeling der Weg en Waterbouw.

    Didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan serta wawasan ke masa depan, Pemerintah Indinesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 . Berbeda dengan harkat pendirian lima perguruan tinggi teknik sebelumnya di kampus yang sama, Institut Teknologi Bandung lahir dalam suasana penuh dinamika mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri bagi kehidupan dan pembangunan bangsa yang maju dan bermartabat. (more…)

  • Berandai Bisa Kuliah Tanpa Tatap Muka

    Terserang flu, rasanya memang ngga enak, biasa melakukan kegiatan di lapangan dari pagi sampai malam, kini ruang gerak terbatas, hanya sebatas kamar saja, terkadang keluar untuk beli makan, tapi itu pun dipaksakan dan tak bisa lama-lama, badan nda kuat.

    Kalau kata Bagus, beda ras dan gen, ras melayu ini badannya kayak ayam sayur, beda dengan wilayah Indonesia Timur, Tinggi, tegap, hitam, dan ngga mudah sakit apalagi masuk angin. 😀 dan sambil berlari pun bisa dengan santainya menerima telepon tanpa “ngos-ngosan”

    Bolos kuliah itu lebih ngga enak, alesan sakit tapi terus Online (Ya saya Online, tapi ditinggal tidur :p ) yang namanya jaman sekarang Internetan tidak mengenal lokasi dan waktu, kapanpun bisa Online dan darimana saja, selama ada jaringan yang terhubung ke Internet.

    Sedikit impian saya dari awal masuk ITB, yakni bisa ngga dateng ke tempat kuliah, ngga perlu ada batas minimum kehadiran 80%, dan ngga perlu khawatir kena penalti karena kehadiran kurang dari 80%, kuliah bisa dari mana saja, dan kapan saja, jadi bangsa ini bisa lebih produktif karena waktu dalam sehari yang hanya 24 jam ini, tidak dihabiskan 10 jamnya dalam sehari berada di Kampus, 07.00 – 17.00

    Kalau kata Pak Utomo, kuliah itu yang penting Experiencenya, jadi pengalaman akan kamu menghadiri kuliah itu amat penting bagi kemampuan kamu untuk menyerap mata kuliah. Ada benarnya omongan beliau yang dilontarkan beberapa tahun lalu, saat saya masih menjadi mahasiswa baru, waktu itu masih ter-brainwash dengan omongan-omongan klasik para pemikir yang masih bertanya buat apa sih email, buat apa sih rapat via YM, buat apa sih blog, demikian. Kuliah tatap muka ada untungnya juga, bisa bertemu dengan teman-teman yang lucu, dan juga mempererat silaturahmi dengan orang-orang disekitar.

    Namun ada gunanya juga mahasiswa diberikan kebebasan untuk tidak menghadiri kuliah tatap muka, beberapa orang bilang bahwa hidup lebih bermakna jika bisa mendapatkan pengalaman lebih banyak diluar, dibanding sekedar mengerjakan pekerjaan rutin yang ujungnya hanya menghasilkan pemikir salin-tempel saja, select all from text book, copy, and paste.

    Beruntung bagi sebagian mata kuliah yang didukung oleh dosennya untuk menggunakan fasilitas digital learning, meski hanya sebatas pengumpulan tugas saja, tetapi hal seperti materi kuliah, dan Quiz tidak semuanya bisa dinikmati melalui internet.

    Mungkin masih terbatas pada kekhawatiran mengenai terbatasnya infrastruktur dan kemampuan untuk mahasiswa dalam mengakses internet, atau mungkin juga masalah pemalsuan identitas mahasiswa tersebut.

    Ah, ini hanya sekedar mimpi di siang bolong saja, sejak kapan institusi besar mau mendengarkan suara-suara kecil seperti ini, sudah daftar ulang online saja masih perlu datang tatap muka dan pakai antrian yang panjang pula, tidak efisien memang, mungkin mentalnya sama dengan beberapa orang yang pernah saya temui beberapa waktu lalu, jauh-jauh dari luar kota bandung dan ingin bertemu dengan saya, hanya untuk menyerahkan beberapa lembar uang ribuan saja, jumlahnya tidak besar, bahkan ongkos dia dari luar kota ke bandung sekitar dua-tiga kali lipat dari uang tersebut, sekali jalan, padahal dengan transfer antar bank, ongkos tidak besar dan lebih cepat, semacam itu kah kepercayaan orang Indonesia terhadap internet (atau kegiatan di dalamnya) ?