Jadi Entrepreneur, atau Jadi Kulinya Entrepreneur ?

Akhir-akhir ini pertanyaan senada ini banyak sekali didengungkan oleh teman-teman saya di milis internal SBM, intinya satu, mereka mengalami kegalauan dalam menemukan tujuan hidup, apakah akan menjadi entrepreneur, apakah akan jadi kuli dari entrepreneur yang sudah ada ?

Masalahnya, di SBM sendiri ada dua kubu dan dua kepentingan yang cukup kuat diluar kubu dan kepentingan lain, disatu sisi harus bisa menciptakan pekerja yang bisa mengerjakan pekerjaan bisnis administratif (jadi kalo ngelamar kerja di perusahaan bisa mengerjakan pekerjaannya dan ngga malu-maluin), disatu sisi juga harus bisa menciptakan entrepreneur yang cukup handal, sementara kubu entrepreneur agak sulit berkomunikasi dengan kubu pekerja yang notabenenya adalah anak-anak yang pintar serta dosen-dosen yang betul betul ngelotok dengan bidang keilmuannya (kebanyakan yang rajin dan jago berhubungan dengan angka dan memiliki IP (indeks prestasi) cukup tinggi), karena yang memiliki cita rasa entrepreneurship ini memiliki kesan orang yang pengangguran serta urakan dan tidak memiliki masa depan yang pasti!

ITU ADALAH PEMIKIRAN YANG SALAH TENTANG ENTREPRENEUR!

Mengapa demikian ? Entrepreneur adalah orang yang pandai melihat peluang, dan itu adalah pasti, tidak mungkin dia menawarkan sesuatu produk jika kliennya sedang bermasalah, mayoritas adalah salesman yang baik, meski tidak semua, tetapi justru mayoritas entrepreneur yang baik yang sering saya temui, kebanyakan bermain aman, dalam arti tidak mau menawarkan sesuatu yang ia tidak bisa sanggupi kepada kliennya, dan ketika hal itu tidak bisa ia sanggupi karena diluar kemampuannya, ia akan meminta maaf dan menggantinya dengan hal lain yang bisa ia perbuat, bukan malah kabur dan tidak bertanggung jawab.

Saya sendiri lebih suka untuk dikenal oleh orang lain sebagai Entrepreneur (meski wannabe), bukan sebagai mahasiswa, mohon maaf, karena agak malu dengan citra mahasiswa yang sekarang lebih cenderung negatif (tukang demo) dan pemalas (ngga rajin kerja, belajar doang). Full Time Entrepreneur istilahnya, dan Part Time Blogger, keduanya adalah pekerjaan saya, mahasiswa ? oh, saya hanya numpang kuliah saja mengisi waktu luang, sekalian mencari rekanan bisnis dan juga teori yang bisa disesuaikan dengan kehidupan nyata dan bisnis… (kebanyakan dari teori tidak bisa diterapkan)

Mengapa demikian kekeuhnya saya Ingin menjadi Entrepreneur ? perhatikan skema berikut :

Jika anda adalah seorang yang baru lulus kuliah (kurang lebih usia disekitar 20-24 tahun), berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membeli sebuah mobil Honda Jazz ?

Anda melamar sebuah pekerjaan di kantor yang bergengsi, masuk jam 7 pagi sedang rumah anda berjarak 30 km dari tempat kerja anda, tentunya anda harus bangun pagi pagi sekali agar tidak terlambat, karena jika terlambat anda akan dipotong gajinya, dan anda baru bisa pulang malam karena harus lembur untuk mendapatkan uang tambahan.

Anggap anda memiliki penghasilan 3 juta per bulan, tinggal di Bandung, dikurangi pengeluaran (kosan, rokok, makan, pacaran, komunikasi, ongkos, dll) anda bisa memiliki tabungan sebesar Rp.800.000 per bulan, tentunya harus memikirkan biaya untuk pernikahan (jika belum menikah) dan asumsi ini merupakan asumsi bagi anda yang masih single, bagaimana jika anda sudah berkeluarga ?

sedang harga honda Jazz patoklah Rp.157.000.000 (kalo ngga salah) berapa tahun lagi anda baru mendapatkan benda ini ? silakan bagi sendiri,

kenyataannya untuk mendapatkan gaji 3 juta sebulan di Bandung bagi fresh graduate itu bukanlah hal yang mudah, anda harus bersaing bersama ribuan pengangguran lainnya untuk mendapatkan pekerjaan itu, dan juga harus bekerja dibawah tekanan dan hidup yang tidak sehat, ujung-ujungnya biaya yang dikeluarkan oleh anda untuk berobat dirumah sakit, akan menghabiskan tabungan yang selama ini anda pegang. Belum lagi ada risiko pengurangan pegawai, dimana ketika anda sakit dan masuk rumah sakit, anda bisa saja dikeluarkan karena kelamaan tidak masuk kerja / kerja anda kurang produktif, selain itu juga perusahaan tidak memerlukan anda lagi karena umur anda sudah tua dan tidak kreatif lagi..

Belum lagi jika anda sudah berkeluarga, dan memiliki anak yang hendak punya motor / mobil,

Ujung-ujungnya demi beli Honda Jazz, anda jadi korupsi, entah itu waktu anda bekerja di kantor, maupun finansial kantor (naudzubillahimindzalik)

hmmm menyakitkan bukan ? ketika muda terlena oleh pekerjaan dan diiming imingi pensiun yang besar, tahunya di jalan diputuskan orang lain, itu karena nasib anda ditentukan oleh Boss, bukan oleh diri anda sendiri.

Perbedaan lain ketika menjadi Entrepreneur, terlihat sedikit pengangguran, penghasilan anda ditentukan oleh kompetensi dan kemampuan anda sendiri, terutama kemampuan untuk memanage dan mencari peluang, serta berkomunikasi menawarkan barang dagangan anda keorang lain. Jam kerja Entrepreneur terkadang tidak menentu, terkadang bisa lebih gila lagi daripada karyawan, tetapi tidak di push oleh atasan melainkan oleh tuntutan dirinya sendiri.

Jadi Entrepreneur cukup menjanjikan dibanding mencari pekerjaan, karena bisa dimulai dari modal yang tidak terlalu besar, dan juga waktu yang tidak terbatas, kapanpun ketika anda di PHK sekalipun, anda bisa menjadi entrepreneur, satu satunya modal yang harus anda kuat miliki adalah KEMAUAN, baru kemudian rekanan dan juga keuangan.

Jika anda sadar, ada gabungan diantara keduanya, yakni Partnership, seseorang bisa menjadi Entrepreneur, dan juga bisa menjadi Karyawan, contohnya, jika anda memiliki ide bisnis tetapi tidak memiliki modal untuk menjalankannya, anda bisa menjual ide bisnis tersebut kepada orang lain yang memiliki modal, ini namanya sistem investasi, atau anda bisa mencari pekerjaan paruh waktu selagi anda menjalankan usaha anda, untuk menambah modal finansial. Pekerjaan paruh waktu ini bisa berupa konsultan, blogger, atau mengerjakan proyek proyek yang kecil kecilan.

Saya rasa, tidak ada alasan untuk seorang dosen untuk tidak menjadi Entrepreneur, waktu yang dia miliki bisa ia pilih, antara untuk riset, proyekan, mengajar, buat usaha, atau untuk keluarga dan masyarakat, dan juga untuk seorang yang baru lulus kuliah untuk menjadi entrepreneur, karena seharusnya sewaktu kuliah ia memiliki banyak teman yang mungkin bisa diajak bekerja sama olehnya membangun kerajaan bisnis.

Untuk menjadi Entrepreneur, perlu dukungan yang amat sangat kuat, mulai dari keluarga, pacar, teman, orang tua, bahkan sampai dukungan dari pihak kemanan, jika ada teman / saudara anda yang hendak menjadi pengusaha, dimohon untuk mendukungnya 100% karena ini berkaitan dengan masa depan dan juga mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Untuk teman-teman yang masih menjadi pengangguran, saran saya marilah buka usaha, menjadi entrepreneur, dan kurangilah jumlah pengangguran di Indonesia…

Kalau kata Ijal & Mimin, Jadi entrepreneur mungkin sulit dimengerti, tidak apa apa, yang penting rekening korannya toh 😀

Untuk Astrid, Feiral, Luthfi, Dharma, dll, semoga tulisan ini bisa menjadi pencerahan, Thanks to Pak JH, BPI, DL, yang udah kasih masukan di milis, serta temen-temen yang udah ngedukung, dan juga buat orang-orang yang menjadi cerminan hidup saya dan sudah memberi pencerahan untuk saya baik dimasa lalu, hari ini, dan mendatang…

Jika anda lulus kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bergengsi, berarti anda maju 5 langkah dari orang lain yang baru lulus kuliah, sedangkan jika anda sewaktu kuliah sudah membangun perusahaan anda sendiri, entah itu bergengsi atau tidak dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, itu sudah maju 100 langkah dari orang yang maju 5 langkah tadi.

Ohya, Blogger merupakan pekerjaan yang amat menjanjikan, kenapa ? tunggu tanggal mainnya 🙂

PS : Jika anda adalah seorang entrepreneur, dan ada yang bertanya kepada anda, siapa boss anda, sebaiknya anda menjawab, Tuhan-lah Boss saya sebenarnya, ia menggaji saya dengan kehidupan 🙂

Comments

71 responses to “Jadi Entrepreneur, atau Jadi Kulinya Entrepreneur ?”

  1. Mimin Avatar

    PERTAMAX..!!

  2. leksa Avatar

    Gue baru mau bahas ini.. ntar gue link post lu,.. banyak ngajarin gue juga….

    Sebenarnya sulit ga nya menjadi enteprenor itu tergantung orang nya. Karena memilih jalan ini memang resiko besar.

    Kuliah dan melamar kerja adalah sebuah paradigma normal di masyarakat kita. Sementara membuka sebuah usaha adalah sebuah pekerjaan berjudi di masyarakat kita..

    Kan manusia ingin hidup yg pasti2 Toh..?? 🙂

    So,.. berbahagia lah loe Ren, karena loe orang yg berani mengambil resiko di kehidupan yang cuman sekali ini… Step A Head than those employee

  3. aRdho Avatar

    duh.. *ngaca* kayaknya gw cuman bisa jadi pekerja doank.. *sigh*

  4. adeanto Avatar

    gw setuju ren, memang mungkin orang pekerja ga kan terlalu ngerti apa itu entrepreneurship.

  5. daud Avatar
    daud

    wah jangan sinis gitu donk sama karyawan. pengusaha tanpa karyawan juga sama juga boong kan.

  6. rendy Avatar

    @daud, bukan sinis sama karyawan, saya hanya membuka pandangan orang-orang agar mengerti mengenai entrepreneurship, silakan anda baca tulisan ini dengan teliti, tanpa dilewat lewat, anda akan menemukan makna sebenarnya tulisan ini 🙂

  7. Affan Avatar

    Kalau kamu sekolah di ITB, kamu itu dididik menjadi bawahan yang baik. Entrepeneur itu bukan cita-cita awal didirikannya ITB, lha wong ITB itu didirikan untuk mencetak mandor inlander untuk proyek pembangunan infrastruktur jaman Belanda kok.

    Awalnya Teknik Sipil, karena infrastruktur yang dibutuhkan adalah jalan dan jembatan. Setelah itu baru Teknik Elektro Arus Kuat dan Arus Lemah (telekomunikasi), karena Belanda membangun PLTA/PLTD/PLTU serta kantor Telegraf untuk keperluan komunikasi.

    Kalau kamu pingin jadi Entrepeneur, berati kamu menyeleweng dari tujuan awal didirikannya ITB. Hehehe.

  8. KhamShe Avatar

    Wah aa ren, terlambat tuh orang-orang udah pd lari, sampean baru bangun. Aku smp kelas 2 udah jadi bos barang bekas di Banjarnegara. Sekarang aku nguli di Jakarta udah punya 5 bisnis yang udah jalan dan aku tinggal kontrol. Enak tenan dari mana-mana ada pemasukan.Tp belum bisa beli honda jasss.Perlu ide buka usaha?

  9. rendy Avatar

    @KhamShe, iya gw lahir terlambat, si notnot udah nyusu gw belum lahir, notnot udah punya usaha, gw masih merangkak, not not udah nyusu lagi, gw baru maen bola, not not udah punye mersi, gw masih naek sepeda…

    sama, lom punya honjes juga…

    cuman semangat 45 aja..

    not, not, tumben lom komen.. 😀

  10. aa nata Avatar

    halah blon comment dah discam… ubah aja ah commentnya “ren, main bola lagi yuukkkkk” 😛

  11. Luthfi Avatar

    tuh ada Luthfi di paragraf 4 dari bawah, itu bukan gw yach?
    *protes*

    Eh, elu ngitungnya tll beribet Ren, easy going ajah …

    baca tulisanmu ini bikin aku puyeng, hidup dibikin susah dan terlalu banyak pertimbangan yang dipikirkan

    *log out*

  12. khairulu Avatar

    dilema ini juga saya alami saat lulus. kesimpulan sekarang adalah menempuh keduanya. Tanam padi, juga kelapa. 🙂

    http://sepia.blogsome.com/2006/12/02/tanam-padi-dan-kelapa/

  13. deni Avatar

    ren, gw setuju dengan pemikiran lu..
    tapi yang gw pikir ga ada salahnya jika kita juga kulinya entepreneur merangkap enterpreneur..
    mungkin ga fokus cuma itu pilihan yang cukup baik..

  14. rendy Avatar

    @deni, kan udah gw jelasin diatas, ada part timenya juga…

  15. Oskar Syahbana Avatar

    Kok entrepreneur cita-citanya cuma punya honda jes, kurang tinggi tuch. Punya pesawat gulfstream pribadi kek, pulau pribadi kek, yang sejenis-jenis itu lah.

    If you aim high and you fail, at least it’s still higher than if you aim low and you fail.

  16. rendy Avatar

    @Troll, if you aim high and you fail, it more pain than you aim low but sure it will high… 🙂

  17. Sebuah catatan setelah bertemu dengan Budi Putra…

    Ada sebuah keasyikan tersendiri ketika bertemu dengan seseorang yang sebelumnya hanya tahu melalui dunia internet, terutama blog. Yang pasti, topik obrolan bisa lebih terarah. Oh ya, di hari Sabtu saya bertemu dengan Budi Putra bersama dengan teman say…

  18. Iman Avatar
    Iman

    … Ujung-ujungnya demi beli Honda Jazz, anda jadi korupsi, entah itu waktu anda bekerja di kantor, maupun finansial kantor (naudzubillahimindzalik)

    Posisi karyawan dan pengusaha sama saja. Terlebih bila jadi pengusaha di Indonesia, dimana antara hitam dan putih ada abu2. Urusan korupsi, amanah, tahu halal haram, adalah urusan hati dengan sang Khalik. Dimana2 ada kesempatan bertemu dosa. Anda tak mau terlibat — dgn menjadi pengusaha — pun, godaan itu datang dari atas bawah ki ka dep blk. Bukannya pesimis, namun ini bicara realita. Setiap urusan yg beririsan dgn pemerintah, ujung2 nya duit juga 🙁

  19. fidrik Avatar
    fidrik

    tapi menurut gw mah selagi kuliah, lebih baik kerja part time alias jadi kuli. kalo langsung jadi boss kayanya ada yg kurang (kurang pengalaman/pengetahuan)

  20. didats Avatar

    tiap orang kan punya tujuan beda beda ren.
    ada orang yg cukup jadi karyawan aja.

    kalo elu kan beda. elu kan orang hebat nih. makanya jadi pengusaha.

    kalo gue, yaaa… gitu deeh…

  21. Mohammad Raleby Avatar

    Saya setuju banget dengan mahasiswa yang kuliah sambil kerja atau kerja sambil kuliah. Apapun, yang penting intinya memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Karena hidup ini singkat. Ga bisa dibeli atau ditukar dengan apapun. Hanya yang perlu dicatat. Untuk menjadi entreprenuer sejati harus mempunyai visi dan misi yang jelas dan ga mudah terombang-ambing dengan keadaan. Teguh dalam menjalankan prinsip. Selamat, Rendy sudah memilih untuk menjadi seorang entreprenuer. Indonesia masih sangat perlu banyak orang2 seperti dirimu.

  22. Azil Avatar

    Fresgrads langsung lamar ke BCG 10 juta perbulan bow 😀
    eh.. jadi rendy udah punya honjes hasil dari jualan hosting? tinggal nunggu fahmi nge-lamar dong 😀

    *kabur*

  23. Amir Avatar

    Congratz yang sudah punya niat 😉

    Negara ini butuh banyak entrepreneur untuk menjadi lebih baik.

    Saya pikir memang ada 2 tipe orang di sini.
    1. tipe pekerja: yang loyal, yang nurut, yang ga neko-neko
    2. tipe pengusaha: yang banyak ide, yang “susah diatur’, yang kadang “males” (inget tag-nya mas Roni TDA) 😛

    Gak ada yang salah.. just follow ur heart 😉

  24. m'pri Avatar

    ente beuneur…
    kok acara di tv kurang banget yang kearah entrepreneur yah..masih sibuk dengan hadiah instan dan yang kaget kagetan…yang jelas jadi entrepreneur ngga instan.

  25. bimoseptyop Avatar

    bener bener *ngangguk-ngangguk*

    tesd tes http://bimoseptyop.blogspot.com

  26. puty Avatar

    umm, kadang2 masalah jiwa juga sih yaa…
    ada yang berjiwa enterpreneur, ada yang emang berjiwa jadi karyawan..
    kalo saya sih kayaknya lebih berjiwa pegawai..
    pegawai perusahaan minyak yang diberi gaji cukup buat nyicil honda jazz tanpa harus korupsi 😀

  27. Anis Avatar

    jadi entrepreneur gak susah, sopir taxi juga entrepreneur, jual es balok juga entrepreneur. Yang susah, gimana supaya bisa self-running 😛

    Jadi karyawan maupun entrepreneuer dua-duanya bukan tujuan hidup, meskipun harus dilewati salah satunya atau dua-duanya.

    Btw, sekolah di SBM cuma untuk jadi entrepreneur dan/atau pekerja to?? Oalaah, kirain untuk nyari ilmu … 😛

  28. cipta Avatar
    cipta

    asyik juga memang jadi pengusaha, tapi terkadang orang yang baru jadi pengusaha selalu ingin terbang melambung tinggi.
    padahal seharusnya dia harus mau memulainya dengan langkah kecil terlebih dahulu.elang aja mulainya dari langkah2 kecil lalu dia baru terbang.emang yang penting punya tekad kuat dan nggak mau nyerah.

    sebenarnya jadi pengusaha juga harus rajin2 ibadah

    ikutan ya…..asyik juga punya temen bloger

    wah asyik juga neh khamse,udah punya 5 perusahaan.

  29. Ollie Avatar

    Hidup Entrepreneur!

  30. nadia Avatar

    Wah2…gembira melihat semangat anak2 muda sekarang utk entrepreuring dini. I am a semi entrepreneur-typical office worker.
    Dulu sebelum lulus, tepatnya pada waktu skripsi , saya membuat rental komik dan alhamdullilah sekarang sudah berkembang. Meski sempat naik turun.
    Be passionate!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *