Blog

  • Playboy – The Killer Brand

    Tadi pagi, saya membaca koran Tribun Jabar, saya melihat headline yang unik, saya lupa tulisannya apa, tetapi intinya memberitahukan bahwa Majalah Playboy Indonesia telah terbit. Well, akhirnya saya putuskan untuk mencarinya di agen majalah langganan saya, kebetulan disana telah tersedia. Harganya Rp.39.000 untuk wilayah jawa, dan Rp.40.000 untuk luar jawa.

    Cover Majalah Playboy Indonesia

    Brand Playboy tetap masih menjadi Killer Brand dibenak orang-orang, mereka masih menganggap Majalah ini sebagai majalah pornografi yang menyajikan gambar-gambar syur dan seronok. Setelah saya membacanya, majalah ini “sedikit lebih sopan” dibandingkan dengan FHM atau Popular, karena isinya yang cukup berbobot dan memiliki content yang berbeda dibandingkan dengan majalah Playboy asli dari Amerika. Andara Early, sosok yang menjadi cover dari majalah Playboy Indonesia edisi pertama, memenuhi beberapa lembar isi dari majalah ini mendampingi artikel artikel menarik seputar agama-budaya, cerpen yang menarik, serta artikel khusus pria lainnya.

    Tak ketinggalan Playmates yang disajikan di artikel ini, Kartika Oktavini Gunawan, tampil dengan busana minim, tetapi tidak telanjang seperti majalah playboy luar negeri.

    Playboy juga menyajikan cara membaca majalah playboy yang aman, karena dari penerbitnya, majalah ini terbit 2 cover, seolah-olah anda sedang membaca majalah PONSEL

    Cara membaca Majalah Playboy
    Anda membaca Majalah Ponsel ? =))

    Apakah anda sudah membacanya ?

    Need A Web Hosting?

    Click Here!

    Advertise Here!

  • Pengajar dan Penjual Obat

    Sering kali saya perhatikan jika berkunjung ke pusat kota, entah itu di Bandung atau kota tempat sebelum saya pindah ke Bandung, ada orang yang berjualan Obat. Entah itu obat sakit kepala, obat kuat, obat koreng, dsb. Semua penjual obat serba bisa itu biasanya mengumbar semua keampuhan obat tersebut, seperti seolah-olah hendak memuntahkan semua kata-kata yang ada di otaknya.

    Penjual tersebut seolah-olah menekan kepada orang yang berada disekitarnya untuk membeli produknya. Sesekali ada orang yang membeli obat tersebut, entah ia merasakan ada manfaatnya atau tidak. Ada lagi yang ketika saya kembali lewat ketempat tersebut, orang tersebut komplain karena obatnya tidak manjur, Penjual tersebut berusaha menenangkan dengan mengganti obat tersebut atau mengembalikan uang yang telah diterimanya.

    Ada hal lucu lagi yang saya petik dari sepenggal kisah yang sering kita temui seperti diatas, sedari dahulu saya bersekolah di Indonesia, sampai sekarang. Saya selalu memperhatikan siapa saja yang mengajar saya dan bagaimana gaya mengajarnya, kebanyakan dari mereka seperti penjual obat tadi yang berusaha untuk meyakinkan muridnya bahwa dia selalu benar dan juga apa yang diajarkannya itu benar.

    Indonesia betul-betul kekurangan Staff Pengajar, jarang sekali orang yang bisa disebut GURU yang bisa saya temui dan ada disekitar saya, karena biasanya orang yang pantas disebut GURU itu sudah berusia lanjut, dan mereka biasanya jarang ada di tempat pembelajaran (sekolah, kampus) karena terlibat pekerjaan lain yang lebih berbobot dan lebih penting lagi.

    Selama saya kuliah pun, baru dua orang yang bisa disebut GURU oleh saya, karena dua orang itu mengajarkan kepada saya untuk learn, bukan study. Mereka juga tidak menekan atau terus memberikan penjelasan atau menjelaskan apa isi dari buku / slide, melainkan bertanya dan membuat saya terus berpikir, bukan tidur.