Category: School

school…. ???

  • Akhirnya IBE 2 selesai juga…

    Integrative Business Experience Course 1 (agustus-desember : penyusunan business plan, proposal, submit ke Bank) dan 2 (januari-mei : approval loan from bank, doin’ business) yang pertama kali di Indonesia diadakan oleh SBM ITB, Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Selama 2 hari berturut-turut (18-19 Mei 2006) ini, telah diadakan presentasi ke empat company, AND Company, Beranda Rumah Company, Palapa Company, dan The Don Company kepada Bank Niaga.

    Hasilnya, And Company yang menjual produk dari ITB, mendapatkan keuntungan sekitar 26 juta, Beranda Rumah Company dengan Rave Customized Tshirt sekitar 33 juta, Palapa Company yang menjual Polo Shirt sekitar 60 Juta, dan The Don Company dengan Cosmonya sekitar 120 Juta.

    Dari keseluruhan jkeuntungan tersebut akan dipergunakan dalam mata kuliah Community Service (tahapan kuliah setelah IBE 1&2)pada semester pendek besok, Doakan kami semua bisa menggelola amanat itu sebaik mungkin. Yang jelas, sebentar lagi Semester Pendek (semester 6) akan dimulai, dan tantangan yang semakin berat-pun akan kami hadapi.

    Masih ada 3 mata kuliah lagi yang akan diuji minggu depan (22-24 mei) doakan semoga kami bisa lulus semua 🙂

  • Pengajar dan Penjual Obat

    Sering kali saya perhatikan jika berkunjung ke pusat kota, entah itu di Bandung atau kota tempat sebelum saya pindah ke Bandung, ada orang yang berjualan Obat. Entah itu obat sakit kepala, obat kuat, obat koreng, dsb. Semua penjual obat serba bisa itu biasanya mengumbar semua keampuhan obat tersebut, seperti seolah-olah hendak memuntahkan semua kata-kata yang ada di otaknya.

    Penjual tersebut seolah-olah menekan kepada orang yang berada disekitarnya untuk membeli produknya. Sesekali ada orang yang membeli obat tersebut, entah ia merasakan ada manfaatnya atau tidak. Ada lagi yang ketika saya kembali lewat ketempat tersebut, orang tersebut komplain karena obatnya tidak manjur, Penjual tersebut berusaha menenangkan dengan mengganti obat tersebut atau mengembalikan uang yang telah diterimanya.

    Ada hal lucu lagi yang saya petik dari sepenggal kisah yang sering kita temui seperti diatas, sedari dahulu saya bersekolah di Indonesia, sampai sekarang. Saya selalu memperhatikan siapa saja yang mengajar saya dan bagaimana gaya mengajarnya, kebanyakan dari mereka seperti penjual obat tadi yang berusaha untuk meyakinkan muridnya bahwa dia selalu benar dan juga apa yang diajarkannya itu benar.

    Indonesia betul-betul kekurangan Staff Pengajar, jarang sekali orang yang bisa disebut GURU yang bisa saya temui dan ada disekitar saya, karena biasanya orang yang pantas disebut GURU itu sudah berusia lanjut, dan mereka biasanya jarang ada di tempat pembelajaran (sekolah, kampus) karena terlibat pekerjaan lain yang lebih berbobot dan lebih penting lagi.

    Selama saya kuliah pun, baru dua orang yang bisa disebut GURU oleh saya, karena dua orang itu mengajarkan kepada saya untuk learn, bukan study. Mereka juga tidak menekan atau terus memberikan penjelasan atau menjelaskan apa isi dari buku / slide, melainkan bertanya dan membuat saya terus berpikir, bukan tidur.