Category: Personal

this post contain personal action or problem or something that i can tell to the public

  • Posting lagi…

    Akhirnya gw nulis lagi.. Sebetulnya masih dalam rangka hiatus menghadapi pekerjaan rutin yang menumpuk, gw juga masih puyeng menyisihkan sebagian waktu istirahat gw untuk relaksasi, jalan-jalan, chatting, dan ngurusin komputer d kantor yang banyak kena virus.. hah dasar windows. Tapi gw nulis kali ini atas permintaan Pak Hermawan Kartajaya yang tadi pagi dateng ke SBM dan minta untuk diposting fotonya saja. Tentunya juga gw ga mau dibilang basbang sama Krisna yang pagi-pagi udah gw teleponin suruh dateng ke SBM buat ngeliput acara ini, Kris, gw duluan yang nulis:)).

    Berbekal pertanyaan titipan dari Sandra “Boloth” Detikhot, dan beberapa pertanyaan yang tentunya buat dipake d kerjaan gw, gw dah dateng pagi-pagi banget ke SBM, niyatnya juga buat booking tempat, karena prediksi gw, peserta bakalan penuh, dan betul, sampe ada yang ngampar di lantai :)) *duh kesian banget deh lu…* Pas dateng, Ruang Auditorium masih kosong, tau-tau cluk, nongol 1 anak 2008, dan cluk, muncul lagi si temen-temen gw.

    Gw tau, Pak Hermawan ga bakal telat kalau hadir ke sebuah acara, biasanya sekitar 30 menit sebelum acara mulai dia sudah ada disana, tapi tadi dia terjebak macet karena wisudaan ITB di Sabuga, yang pagi harinya juga menyita waktu gw sekitar 5 menit untuk membantu mengatur lalu lintas di pertigaan Sumur Bandung.

    Back to point, seperti biasa, Babeh bercerita banyak hal, mulai dari dulu dia kecilnya bla bla… sampai sekarang, banyak sudah cerita ia yang memotivasiku dan menginspirasiku. Yup.. menurut gw dia BUKAN SEORANG MARKETER saja, melainkan juga ENTREPRENEUR yang cukup hebat.
    Hermawan kartajaya
    pas waktu selesai, gw nanyain pertanyaan titipan sandra dan pertanyaan gw.. dia cukup antusias juga. ohya ada titipan juga saran buat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono!

    “Menurut saya secara marketing sebetulnya lebih bagus, bahwa SBY ngeblog aku senang, tapi lebih correct kalau SBY sebagai pribadi. Itu sebetulnya lebih powerfull karena apa, dia akan kelihatan personal brandingnya dia, lebih bagus itu, soalnya lebih bagus, sedangkan yang dia sebagai Presiden, dia kan ada Kominfo, ada Spoke Person, ada apa, malah kacau kalo dipake itu. saya setuju, tapi kenapa ga SBY sebagai pribadi, gitu, itu akan sangat menarik karena personal branding itu jauh lebih menarik ditilik daripada Presiden, itu penasihat-penasihatnya ini yang kurang ini, macem yah.. Angelina Sondakh pada waktu mau bikin sama Adjie Masaid Aku bilang kamu aja sendiri, ngapain bareng Adjie Masaid, belum tentu kawin kamu sama Adjie Masaid, bikin blog juga toh Angelina, kita yang advise, dia dateng ke kantor saya”

    Waktu Pulang, beliau diberi Oleh-oleh dari rekan saya, Feblya dari kelas sebelah sebuah Mosaic Poster, poster ini terdiri dari ribuan gambar-gambar kecil yang berisikan foto dari Hermawan kartajaya dan mahasiswa SBM.
    Hermawan kartajaya

    Soal Komentar HK terhadap Blog mungkin nanti akan saya publish, Ingatkan saya, karena saya suka lupa. Buat Wesly Darwin, Silakan mengambil Image ini, dan jika masih memerlukan gambar lainnya, silakan kontak Saya, Buat Sandra Boloth, File masih harus di edit dulu sebelum boleh d ambil (.WAV), buat Krisna, silakan ambil gambar di kampus, kontak gw dulu. DAN JANGAN LUPA… PLIS baca Disclaimer DI SITUS INI!
    Hermawan kartajaya
    Ohya.. ketinggalan… Buat Atir, elu & cosmo emang hebat melihat peluang, sayang gw terpaksa ga bisa begitu banyak berkontribusi di marketing IBE company gw. biarkan orang-orang tumbuh dan berkembang tanpa harus dicekoki gw, nanti kalo dikasih tau malah salah, mending gw diem! Selamat Makan 😀

  • Learn, bukan Study!

    Ada hal yang menggelitik perasaan saya ketika saya naik transportasi umum (baca:angkot), dipintunya sering tertulis D1=1,5 Juta D3=3,5 S1=5Juta, Bebas Uang Pangkal, Absensi bebas, Cocok untuk Mahasiswa sibuk dan Karyawan. Jika dibandingkan dengan Institusi tempat saya menimba ilmu sekarang, hal ini amatlah jauh sekali. Sebetulnya Mahal atau murahnya biaya pendidikan itu relatif, tergantung ia siap atau tidak untuk membayarnya. Tetapi apakah anda pernah menyadari, bahwa apa yang anda bayarkan belum tentu sesuai dengan apa yang anda terima?

    Kita kembali lagi kepada tujuan anda menuntut sebuah ilmu, apakah hanya ingin mencari gelar kelulusan? numpang beken dengan nama institusi ? fasilitas yang bagus? mencari nilai tinggi? ataukah ingin menyerap ilmu tersebut sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan nilai? Disinilah letak perbedaan antara Learn dan Study.

    Kebanyakan di Indonesia yang dianut adalah sistem Study, jadi siswa dituntut untuk belajar lebih dari 80% pelajaran wajib untuk dihapalkan, sedangkan pelajaran pilihannya hanya 20% dan itupun baru bisa didapat ketika ia telah memasuki tahun ke 3 ketika ia duduk di perguruan tinggi. Hal inilah yang menyebabkan hampir semua lulusan perguruan tinggi di Indonesia, dan yang setara, adalah lulusan cetakan, alias turun-temurun setiap angkatan memiliki keahlian yang hampir sama. Tidak ada perbedaan dari mereka.

    Kreativitas biasanya dikukung oleh peraturan-peraturan dan nilai yang membuat seseorang terobsesi untuk mendapatkan nilai yang baik tanpa menghiraukan tindakan apa yang ia ambil. Ada sebuah anekdot yang saya kutip dari sebuah mailing list manager,

    disebuah sekolah bisnis, dosen tentunya akan menyukai orang-orang yang mendapatkan nilai A, karena mereka berpotensi menjadi penerus dari dosen-dosen tersebut. Sedang yang mendapat nilai B akan bergabung dengan sebagian dari mereka yang mendapatkan nilai A untuk menjadi Top Level Management alias tukang suruh yang hanya bisa menyuruh tanpa menggunakan otak mereka, sedang yang mendapatkan nilai C, 5-10 tahun kemudian akan menjadi entrepreneur handal yang akan mengharumkan nama sekolah mereka.

    Dillemanya rata-rata orang Indonesia ingin menjadi Manager, tanpa melalui proses yang berat. Maka timbullah si KKN itu, dan ibarat roda, kehidupan penuh KKN itu selalu berputar, dimulai dari tindakan kecil seperti mencontek, hingga manipulasi besar-besaran. Cheating is a Crime, masih ingat dibenak saya, hampir 8 tahun lalu sewaktu saya baru masuk SMP, Guru saya membentak beberapa rekan yang kebetulan berada dekat saya dan mereka tertangkap sedang mencontek. Mengapa Mereka Mencontek ? Karena Ingin mencari Nilai, bukan Ilmu!

    Perbedaan ini amat mencolok ketika saya bertanya dengan beberapa rekan saya di Luar negeri, di Negara mereka tinggal, pencarian nilai seseorang amatlah bergantung kepada kemampuan ia untuk menyerap serta mengaplikasikan ilmu tersebut, seorang guru atau dosen yang baik seharusnya bisa menilai kemampuan seseorang bukan dari lembaran kertas ujian saja, melainkan juga dari sikap ia keseharian dan semangat ia dalam menuntut ilmu. Bisa saja dosen atau guru beralasan tidak mungkin menilai banyak orang dalam satu waktu, maka mereka menerapkan sistem Peering Evaluation, alias penilaian antar-individu. Mungkin hal ini cocok diterapkan bukan di Indonesia, dikarenakan sikap professionalismenya mereka yang sudah terbentuk sejak kecil, jadi masalah penilaian tersebut akan lebih obyektif, bukan subyektif, berbeda sekali dengan orang indonesia yang cenderung memendam permasalahan, seolah-olah dianggap selesai tetapi tahu-tahu menikam dari belakang.

    Jadi jika ingin mendapatkan nilai atau Gelar (study), silakan bersekolah di Indonesia, dan jika ingin mendapatkan Ilmu dan bisa mengaplikasikannya (learn), lupakanlah nilai, biarkan mereka menilai ketika anda telah berhasil. Tentunya mereka akan berkata “oooh… jadi begitu…!”.