Learn, bukan Study!

Ada hal yang menggelitik perasaan saya ketika saya naik transportasi umum (baca:angkot), dipintunya sering tertulis D1=1,5 Juta D3=3,5 S1=5Juta, Bebas Uang Pangkal, Absensi bebas, Cocok untuk Mahasiswa sibuk dan Karyawan. Jika dibandingkan dengan Institusi tempat saya menimba ilmu sekarang, hal ini amatlah jauh sekali. Sebetulnya Mahal atau murahnya biaya pendidikan itu relatif, tergantung ia siap atau tidak untuk membayarnya. Tetapi apakah anda pernah menyadari, bahwa apa yang anda bayarkan belum tentu sesuai dengan apa yang anda terima?

Kita kembali lagi kepada tujuan anda menuntut sebuah ilmu, apakah hanya ingin mencari gelar kelulusan? numpang beken dengan nama institusi ? fasilitas yang bagus? mencari nilai tinggi? ataukah ingin menyerap ilmu tersebut sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan nilai? Disinilah letak perbedaan antara Learn dan Study.

Kebanyakan di Indonesia yang dianut adalah sistem Study, jadi siswa dituntut untuk belajar lebih dari 80% pelajaran wajib untuk dihapalkan, sedangkan pelajaran pilihannya hanya 20% dan itupun baru bisa didapat ketika ia telah memasuki tahun ke 3 ketika ia duduk di perguruan tinggi. Hal inilah yang menyebabkan hampir semua lulusan perguruan tinggi di Indonesia, dan yang setara, adalah lulusan cetakan, alias turun-temurun setiap angkatan memiliki keahlian yang hampir sama. Tidak ada perbedaan dari mereka.

Kreativitas biasanya dikukung oleh peraturan-peraturan dan nilai yang membuat seseorang terobsesi untuk mendapatkan nilai yang baik tanpa menghiraukan tindakan apa yang ia ambil. Ada sebuah anekdot yang saya kutip dari sebuah mailing list manager,

disebuah sekolah bisnis, dosen tentunya akan menyukai orang-orang yang mendapatkan nilai A, karena mereka berpotensi menjadi penerus dari dosen-dosen tersebut. Sedang yang mendapat nilai B akan bergabung dengan sebagian dari mereka yang mendapatkan nilai A untuk menjadi Top Level Management alias tukang suruh yang hanya bisa menyuruh tanpa menggunakan otak mereka, sedang yang mendapatkan nilai C, 5-10 tahun kemudian akan menjadi entrepreneur handal yang akan mengharumkan nama sekolah mereka.

Dillemanya rata-rata orang Indonesia ingin menjadi Manager, tanpa melalui proses yang berat. Maka timbullah si KKN itu, dan ibarat roda, kehidupan penuh KKN itu selalu berputar, dimulai dari tindakan kecil seperti mencontek, hingga manipulasi besar-besaran. Cheating is a Crime, masih ingat dibenak saya, hampir 8 tahun lalu sewaktu saya baru masuk SMP, Guru saya membentak beberapa rekan yang kebetulan berada dekat saya dan mereka tertangkap sedang mencontek. Mengapa Mereka Mencontek ? Karena Ingin mencari Nilai, bukan Ilmu!

Perbedaan ini amat mencolok ketika saya bertanya dengan beberapa rekan saya di Luar negeri, di Negara mereka tinggal, pencarian nilai seseorang amatlah bergantung kepada kemampuan ia untuk menyerap serta mengaplikasikan ilmu tersebut, seorang guru atau dosen yang baik seharusnya bisa menilai kemampuan seseorang bukan dari lembaran kertas ujian saja, melainkan juga dari sikap ia keseharian dan semangat ia dalam menuntut ilmu. Bisa saja dosen atau guru beralasan tidak mungkin menilai banyak orang dalam satu waktu, maka mereka menerapkan sistem Peering Evaluation, alias penilaian antar-individu. Mungkin hal ini cocok diterapkan bukan di Indonesia, dikarenakan sikap professionalismenya mereka yang sudah terbentuk sejak kecil, jadi masalah penilaian tersebut akan lebih obyektif, bukan subyektif, berbeda sekali dengan orang indonesia yang cenderung memendam permasalahan, seolah-olah dianggap selesai tetapi tahu-tahu menikam dari belakang.

Jadi jika ingin mendapatkan nilai atau Gelar (study), silakan bersekolah di Indonesia, dan jika ingin mendapatkan Ilmu dan bisa mengaplikasikannya (learn), lupakanlah nilai, biarkan mereka menilai ketika anda telah berhasil. Tentunya mereka akan berkata “oooh… jadi begitu…!”.

Comments

20 responses to “Learn, bukan Study!”

  1. Oskar Syahbana Avatar

    Pengalaman pribadi Ren? Hehehe. Anyway, nice short essay! Panjangin dikit terus kirimin ke koran. Lumayan kan, dapet nama :).

  2. maknyak Avatar

    memang ya IP menentukan posisi. yg gak bisa mencapai IP 3 akan susah kerja dan susah mendapatkan beasiswa baik LN maupun dalam negeri.
    Solusinya ya ya jadi mahasiswa yg gak hanya ngunyah materi yg hanya dari dosen, kreative tetapi ya tetep harus memperhatikan IP.

    klo di LN otomatis mahasiswa yg seperti itu masuk ke jajaran A level. karena nilai A di sini suseh banget.

    btw, thanks dah dateng ke jumpa penulis blogfam yaa. maksih banget.

  3. ID Avatar

    Setubuh 🙂 kasian gw liat anak-anak dari kampung bersusah susah jadi mahasiswa begitu selesai kebingungan. Akhirnya jaga warnet, belajar web LOL!

  4. aRdho Avatar

    Iya sih… tp ku kuliah disini juga yang bule tukang nyontek kok… hehe.. tepatnya pengasih contekan kepada teman2 indonesia.. hehehe…. beneran deh.. aku gak tmsk… 😀

  5. amellie Avatar

    bagus nih postingnya! gw setuju banget.. kebetulan gw jg suka membanding2kan sistem pendidikan di indo en di luar.. kenyataannya di indo kita dipaksa untuk belajar sebanyak2nya.. tapi kok di luar gw merasa work loadnya lebih sedikit.. but orgnya “jadi” semua..berhasil semua..

  6. iang Avatar

    .. siswa dituntut ..

    bukannya nuntut juga ya?

  7. smile Avatar

    nice post!
    boleh kuminta ga buat bahan diskusi di kampus?=)

    kasus di kampusku: mahasiswa dengan IP 3,5 banyak yang hanya hafal teori dan materi tapi tak pernah paham esensinya…

    jadi, seberapa besar IP tinggi menjamin kualitas?

  8. achmadi Avatar

    eh ren tulisan lo kali ini bagus juga.

    baidewei, itu iklan qwords dibenerin gitu kenapa …. kurang presh lagi

    *halah.. kritik terus lo dik*

  9. boku_baka Avatar

    eit, theme-nya sama ik.
    ehmm.. gw malah belum lulus. kalau S1 berapa tadi? 5 juta? pesen dimana yah 🙂

  10. rendy Avatar

    #1 he he he he
    #2 Untungnya saya ga kepikiran mau melamar pekerjaan 🙂
    #3 yang penting rezekinya halal toh, daripada jadi pembesar negara tapi rezekinya diragukan kehalalannya?
    #4 h*m*k memang suka denial, tenang, udah pada tau kok!
    #5 karena kreativitas kamu dihargai, beda dengan disini, kreatif = membangkang atau gila! padahal hanya berbeda dari yang lain, sudah saatnya kita bisa menghargai perbedaan!
    #6 menuntut fasilitas dong, udah bayar mahal2 :))
    #7 boleh, boleh, kualitas memang bukan ditentukan oleh IP, melainkan kemampuan individu tersebut dalam dunia nyata (baca:masyarakat), apakah IP besar itu bisa diaplikasikan untuk pembangunan ? atau hanya pajangan di transkrip nilai saja ?
    #8 nanti dik, gw lagi ada kerjaan lain 🙂
    #9 beda, gantengan gw 😀 s1 cuman 5 juta 3 tahun jam kuliah bebas, absensi bebas, mau ? di daerah kiara condong bandung tuh 😀

  11. iang Avatar

    bukan menuntut fasilitas. mahasiswa sini bukannya lebih seneng disuapin?

    kadang2 beban kuliah terlalu tinggi sampe2 mo ngelakuin hal lain selain belajar-yang-dikasih-oleh-dosen jadi susah.

  12. rahma Avatar

    iyah yah… susah dapetin nilai A disini..

    biasanya di Indo kita nggak boleh bikin sesuatu yg beda..kalo beda dianggap salah..
    …kalo diluar kita dituntut punya pikiran sendiri,dll sendiri …
    sepengetahuan ku anak indo diluar negri pinter2 lo…sayang yah..sistem kita bikin kita bego..

    ikutan bilang ah ; nice essay…

  13. ryosaeba Avatar

    #1, justru tulisan yang mirip sudah ada di kompas minggu yang minggu kemarin. sama persis juga perbandingan antara 80% dan 20%-nya itu.

  14. rendy Avatar

    #13 saya baru tahu kalau bahasan serupa telah dibahas di kompas, tetapi memang bahasan seperti ini sudah ada dari dulu, hanya kali ini saya mengulas dari pandangan saya. angka 80% dan 20% itu saya dapat dari perhitungan kasar berdasarkan kurikulum yang sekarang sedang saya hadapi.

  15. Achmad Avatar
    Achmad

    Good posting ren …

    Gua masukin di milis temen-temen gua yah 🙂

  16. Azil Adi Permana Ph.D Avatar

    #14 ahleysyan *kabuuur*

  17. boy Avatar
    boy

    gila……………….
    oh……………
    ternyata kyk gitu
    gw baru sadar nihhhhhhhh

  18. Ki poe Avatar

    Mas Rendy, aku ambil tulisannya buat tugas kuliah.
    mendesak banget. makasih ya sebelumnya. yah namanya juga di Indonesia…..he.he.he.

  19. […] Selama saya kuliah pun, baru dua orang yang bisa disebut GURU oleh saya, karena dua orang itu mengajarkan kepada saya untuk learn, bukan study. Mereka juga tidak menekan atau terus memberikan penjelasan atau menjelaskan apa isi dari buku / slide, melainkan bertanya dan membuat saya terus berpikir, bukan tidur. […]

  20. diory Avatar

    aku suka banget sama tulisannya mas. kalo hanya kejar nilai, nanti yang didapat ya juga nilai. kalo kejar ilmu, yang didapat ya ilmunya, sekalipun nilainya enggak bagus kan nanti bisa diperbaiki dengan ilmu yang semakin bertambah. lalu pada akhirnya, ilmu semakin mantap, nilai bagus pun mengikuti. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *