Konon katanya negara ini masih memiliki jumlah pengangguran yang tinggi, karena tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada di Indonesia. Beberapa orang berteriak kepada pemerintah untuk meminta diberikan pekerjaan bagi mereka, padahal daripada berteriak, mending dagang nasi. Ada yang datang dari pelosok nun jauh dimana jika dicari dalam peta pun, alamatnya susah dicari, perlu jasa seorang tukang pos untuk menemukan alamat itu, Bahkan ada yang datang dari tengah kota dan berlabel putra seorang penjabat daerahnya.
Disatu sisi, orang yang memiliki lapangan pekerjaan pun masih harus direpotkan dengan proses seleksi calon pekerjanya. Ketika sebuah posisi pekerjaan dibuka, ratusan bahkan ribuan orang berebutan untuk mendapatkan posisi tersebut, sayangnya dari semua yang banyak itu, tidak jarang kesemua lamaran yang masuk itu ditolak, karena tidak sesuai dengan kriteria, atau surat lamaran yang diajukannya adalah surat bodong.
Banyak Tips Lamaran Pekerjaan beredar di Internet, surat kabar, buletin lowongan kerja, bahkan berbentuk organisasi formal seperti penyalur tenaga kerja, Layanan Karir Kampus, Biro pencari tenaga kerja di Internet. Semua itu dengan tujuan untuk memudahkan pencari kerja, dan pencari pekerjaan untuk saling bertemu dengan kecocokan dan kebutuhan masing-masing.
Agak miris juga melihatnya, yang satu kebingungan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, yang satu lagi kebingungan mencari pekerja, dan yang satu lati kebingungan karena dirongrong terus oleh orang yang ingin bertahan hidup tadi. Terus terang bagi saya hal yang tersulit saat ini adalah mencari pekerja, dibanding dengan mencari pekerjaan, mencari orang yang cocok dengan posisi yang dibutuhkan, dan cocok dengan team yang sudah dibuat, itu mumetnya bisa bikin ngga tidur, meski kadang di posisi saya seperti ini, masih juga sering terlintas pertanyaan dalam diri seperti yang diutarakan Putra. Mungkin hanya 1 jawabannya, saya bekerja pada-Nya dan digaji oleh-Nya.
Leave a Reply