Jika anda melewati pertigaan Jalan Taman Sari dan Jalan Ganesha Bandung (samping ITB) sudah hampir dua minggu ini anda akan disuguhi pemandangan gunungan sampah yang berbau tidak sedap. Lucunya, Gunungan sampah seperti ini tidak hanya bisa anda temui di Jalan Taman Sari ini saja, daerah dekat keramaian seperti Pasar Tradisional, Pasar Induk, Perumahan, Jalan Umum, dll, menambah daftar gunungan sampah seperti ini. Seharusnya Museum Rekor Indonesia memberikan rekor kepada Pemda Kota Bandung atas banyaknya jumlah gunungan sampah seperti ini. Percaya atau tidak, tahun ini saja sudah dua kali kejadian seperti ini.
Permasalahannya, Kota Bandung tidak memiliki tempat penampungan sampah akhir (TPA), dikarenakan warga sekitar TPA mengeluh bau yang tidak sedap, penyakit yang datang dan takut tragedi longsornya gunungan sampah di TPA LeuwiGajah terulang kembali. Lucunya, selama ini ternyata sampah hanya ditumpuk saja, dan dibiarkan menggunung, meski sesekali sampah dipisahkan untuk diambil benda-benda logam dan plastik yang bisa dijual untuk didaur ulang. Tetapi sampah lain seperti sampah organik dan stereofoam styrofoam tidak dipikirkan cara pengolahannya.
Kemarin, saat saya melewati Gunungan sampah di dekat ITB tersebut, tampak beberapa orang dari Pemuda Pancasila yang membantu mengurangi ketinggian gunungan sampah tersebut dengan cara memilah dan membakarnya.

Pagi tadi, saat saya hendak jalan-jalan keliling kota, sambil melihat-lihat obyek menarik yang bisa diabadikan, saya menemukan selebaran yang ditempel di pintu angkuta kota. Agak menggelikan memang membacanya,
Rubbish Van Java , Buanglah Sampah di… Gedung Sate, Gubernuran, Kandang FPI, Balai kota & gedung Pemerintahan lainnya, bla3x!!! : Organisasi Sampah Masyarakat Benci Sampah BANDUNG – BERHIBER (Berserakan, Hideung, berlalar)
Entah siapa mereka yang membuat selebaran yang ditempel itu. tetapi lumayan lah untuk bikin tersenyum 🙂
Omong-Omong, apa Muri mau merekam kejadian ini dan memberikan anugerah kepada Pemerintah kota Bandung ?


Leave a Reply