Bangkit di era E-Commerce Melalui Marketplace

Seringkali saya ketika mengisi seminar banyak orang bertanya kepada saya. Apa gunanya punya web? “Saya sudah jualan di Instagram, Facebook, dan Marketplace, sudah ramai, bahkan sekarang kewalahan saya menghadapi pesanan“. Kira-kira seperti itu pertanyaan dan jawaban (dari mereka) yang sering saya dapatkan.

Saya pribadi amat senang berbelanja Online, baik itu membeli ke toko kecil, maupun ke toko besar, ataupun berbelanja di Marketplace, namun ada hal yang menggelitik yang sering dicurhatkan oleh kawan-kawan penjual marketplace kepada saya.

Adalah fitur bernama Sortir urutkan Berdasarkan harga, atau temukan dari seller lain. Fitur “adu-domba-ala-marketplace” ini membuat konsumen bisa menemukan harga termurah, dan juga membuat konsumen semakin peka terhadap harga mana yang paling oke untuk mereka.

Sortir bedasarkan harga

Tangan Pertama, Kedua-Ketiga

Dari sini kita bisa menyimpulkan, mana pedagang yang membeli ke tangan pertama, dan mana pedagang yang membeli dari tangan kedua-ketiga-keempat. Atau bisa juga seperti ini, pedagang mana yang mengambil margin besar, dan mana pedagang yang mengambil margin kecil.

Info dari Penjual Lainnya

Belum lagi faktor Subsidi yang gila-gilaan

Kawan baik saya, salah satu Dealer merek Laptop ternama di Indonesia, pernah dimusuhi oleh toko-toko lain di daerah yang membeli produk dari kawan saya, dan dicurigai para toko tersebut, pihak marketplace menyogok dia atau perusahaannya sehingga memberikan harga murah.

Dari Laptop seharga 2.995.000 (dealer price – End User Price normal di 3.200.000 – 3.700.000) ketika sampai dipajang oleh Marketplace, harganya menjadi 2.495.000.  Artinya disubsidi 500 Ribu Rupiah, diluar subsidi PPn, dan Juga Subsidi Ongkos kirim sekitar 30-100 Ribu Rupiah. Itupun kita belum hitung subsidi MDR (Merchant Discounted Rate) untuk payment processor Kartu Kredit, atau Cicilan Nol persen.

beras 5KG

Harga beras di atas, di pasar tradisional adalah Rp 75.000 untuk 5KG, di marketplace tertentu selain memberikan subsidi sekitar 3500 untuk setiap pembeliannya, memberikan juga ongkos kirim gratis se-Indonesia, anggaplah rata-rata pengiriman 5KG + packing, sekitar 25-35 Ribu rupiah, jadi berapa nilai subsidi sesungguhnya?

Adakah yang terlupa? Ya, Biaya operasional internal Marketplace tidaklah sedikit, promo sana sini di televisi yang mahal, dan juga biaya karyawan, gudang, logistik, ini yang tidak bisa dikalahkan dalam waktu singkat, “Investasi” luar biasa besar ini, tentu merogoh dana dari kocek yang tidak sedikit.

Begitulah kira-kira kehidupan sehari-hari di E-Commerce berskala besar, penuh dengan subsidi dengan membakar dana yang besar setiap harinya.

Subsidi Bergantung Kehendak Investor

Maret 2016 silam, salah satu raksasa E-Commerce dari Jepang, Rakuten menutup layanannya di Indonesia. Belum lagi jika nanti pemilik “lapak” berjualan ada seperti Facebook, atau Instagram, mengubah kebijakan mereka terhadap apa content yang diperbolehkan atau tidak diletakkan di dalam layanan mereka.

Pernahkah anda berpikir bahwa subsidi pada E-Commerce dapat dihentikan sewaktu-waktu oleh Investor mereka, karena mereka merasa tidak menguntungkan?

Hal ini sudah terjadi…

Subsidi ini memang luar biasa manis, saya membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sampo, sabun cuci piring, bahkan beras kepada orang tua saya di luar kota, disubsidi oleh mereka, harga barang sampai di tempat, jauh lebih murah daripada beli di warung dekat rumah, bahkan terkadang jika anda beruntung, anda bisa membeli beras 5KG di atas, dengan harga 25 ribu rupiah saja, di antar sampai ke rumah!  karena bertebaran voucher dimana-mana, cukup luangkan waktu 5-10 menit sebelum membeli, untuk sedikit googling 🙂 .

Bagaimana jika anda sudah terlanjur nyaman dengan sistem subsidi yang selama ini membuat anda terlena? Ah gampang, cari lagi saja yang mau subsidi… 

Betul sekali, masih banyak Investor Gila yang mau membakar duitnya untuk subsidi E-Commerce dalam harga Produk, Solusi Jangka Pendek. Dimana yang seharusnya E-Commerce besar lakukan adalah memperbaiki sistem distribusi, dan juga kualitas supplier dan pasca penjualan. Hal ini bisa kita lihat saat ini, sebut saja namanya saat ini di benak anda, mungkin ada dalam top 5 E-Commerce langganan anda.

Untuk sisi konsumen, hal ini amat menguntungkan, namun dari sisi penjual, tentu anda akan kalah dengan mudah. Harga lebih murah soalnya.

Untuk Sista-Sista dan Toko Tradisional

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh E-Commerce skala kecil seperti Sista Sista yang harus bertarung dengan Agan Agan yang menawar dengan keji, meminta testimonial sana-sini, capture pesan di Whatsapp, BBM, dan sibuk foto ratusan resi dari pengiriman dan mensensor alamat tujuan serta nomor telepon yang ada di dalamnya?

Dan untuk toko Tradisional yang bahkan belum memiliki sistem sama sekali
Haruskah bertarung dengan E-Commerce Besar?

Jawabannya adalah : JANGAN! tapi kita Manfaatkan sebaik mungkin!

Solusi Jangka Pendek untuk E-Commerce Pemula

Sebetulnya mudah, solusi jangka pendeknya, bergabung dengan Marketplace, dan produk anda akan diperlakukan seperti di atas, diberi subsidi, dan dibantu oleh sistem mereka.

Kelemahannya, orang tidak akan mengenal anda, bahkan barang anda bisa dikembalikan (retur) tanpa ada kejelasan mengapa hal itu terjadi.

Mengapa itu terjadi? karena marketplace akan menganggap anda sebagai Supplier mereka, pembayaran akan didelay 1-2 minggu, dan bahkan ada marketplace yang menahan barang milik supplier selama lebih dari 3 bulan, dan dikembalikan dalam kondisi rusak tanpa alasan.

Namun karena volume yang diperdagangkan cukup besar, seharusnya bisa diperhitungkan juga berapa persen kerusakan dan keuntungan, asalkan memang dana yang anda miliki cukup besar dan kuat menahan napas dananya 😀

Solusi Jangka Panjang untuk E-Commerce Pemula

Solusi jangka panjangnya, setelah bergabung dengan marketplace, dan anda mengirimkan produk, andalkan kreativitas anda untuk mempertahankan konsumen. Cetak Brosur anda, Cetak Logo Anda, Cetak Resi Anda, Beri Sticker anda, dan iming-imingi konsumen untuk diberi diskon jika melakukan pemesanan langsung kepada anda. Tapi tunggu dulu, hal jangka panjang ini hanya bisa dilakukan jika anda sudah memiliki website, jangan sampai nanti anda promosi, yang dipromosikan adalah akun Instagram anda, atau Akun Facebook anda, sekali kena hack atau ada perubahan klausul penggunaan, bubar blas nanti usaha anda.

Membuat Website Sendiri, Memperkenalkan brand Anda

Membuat website tidaklah mahal, bisa beli Nama Domain dan Web Hosting di Qwords. Satu Tahun mulai dari berkisar di angka 200 Ribu Rupiah, kurang dari Seribu Rupiah per Hari biayanya. Namun saya sarankan untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik, dan juga performa yang optimal, gunakan yang harganya berkisar di 500-600 Ribu setahun, kurang dari 2000 rupiah per hari kok biayanya. Kelebihannya, selain akses cepat dari seluruh dunia, Hosting di Qwords ini sudah mendukung teknologi Cloud. Sehingga bisa memberikan performa yang prima dan kualitas tinggi.

Aktivasi juga cukup cepat, sekitar 5 menit saja setelah pembayaran diterima, web kamu sudah bisa Online, dan kamu bisa menjelajah sendiri dan mendapatkan pengalaman luar biasa dalam membangun website kamu.

Dan saat ini membuat website tidak sesulit ketika 18 Tahun silam saya mengenal internet, dan 17 Tahun silam saya memiliki web pertama kali. Tidak perlu banyak mempelajari Kode HTML (Hyper-Text Markup Language) Cukup Klik-dan-Klik saja, Website sudah bisa beroperasi.

Atau jika memerlukan bantuan professional, banyak web developer yang siap sedia membantu untuk membuat web, tinggal sesuaikan dengan kebutuhan, dan budget, mau yang murah ADA, yang mahal ADA, sesuaikan saja 🙂

Satu Juta Domain Indonesia Gratis

Atau jika kamu tidak mau mengeluarkan uang untuk 1 tahun pertama, untuk Domain dan Hosting, Bergabung dalam program Sejuta Domain Indonesia, Program ini di Inisiasi oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, serta didukung oleh Qwords sebagai salah satu penyedia hostingnya. Kamu bisa Daftar Hosting Indonesia Gratis di sini. Dan mendapatkan kapasitas 500MB lengkap dengan Control Panel, dan spesifikasi yang sama dengan Cloud Web Hosting Indonesia yang kamu beli di Qwords.

Daftar Hosting Gratis

Membuat Email dengan Nama Domain Sendiri

Nama domain dan web hosting tersebut, dapat digunakan untuk membuat website, ecommerce, dan menggunakan Email dengan nama domain sendiri, semisal namakamu@tokoonlinekamu.dom lebih bergengsi daripada sekedar menggunakan email gratis @yahoo atau @gmail.

Jangan Tinggalkan Lapak Lama Anda Setelah Memiliki Website

Jangan sekali-sekali anda meninggalkan lapak lama anda setelah memiliki website, pelan pelan bangun Website anda, dan Gunakan Alamat Web anda sebagai Brand anda, atau gunakan Brand anda sebagai Alamat Web anda, Jika belum memiliki Brand, pilihlah nama yang mudah diingat, tidak pasaran, dan unik serta bermakna. Bisa juga disamakan dengan nama akun Instagram atau Facebook Page anda yang sudah terkenal saat ini 🙂

Gunakan Facebook, Instagram, Whatsapp dan BBM yang selama ini anda gunakan sebagai salah satu jalur komunikasi dan mempererat hubungan anda dengan konsumen, terlebih jika anda belum mau menginvestasikan kedalam sistem Customer Relationship Management (CRM) yang canggih.

Namun tentunya jangan mengaku kita Orang Kreatif, jika tidak mampu melihat peluang secara terbuka dan gamblang, Masak sudah bisa memanfaatkan Facebook dan Instagram, bahkan Whatsapp dan BBM untuk berjualan, tapi tidak bisa memanfaatkan peluang luar biasa ini untuk mendapatkan Keuntungan Jangka Panjang 😀

Jadi, sudah punya website kan? Jika Belum, sudah tahu kan harus ke mana? 😉

Qwords Cloud Web Hosting Indonesia

  1. Menarik sekali tulisannya Mas Rendi. Saya juga bakulan via marketplace yang memberikan subsidi ongkos kirim. Tapi makin lama subsidinya semakin berkurang. Yang jadi pertanyaan saya, dari mana umumnya keuntungan marketplace yang seperti itu?

  2. halo mas, untungnya adalah data transaksi, volume penjualan yang nantinya jadi bahan gorengan untuk dijual ke publik, bahwa sahamnya bisa naik harga