Siang ini ceritanya saya habis berkeliling kota Bandung, berbelanja beberapa keperluan pekerjaan, iseng-iseng pulang lewat jalur yang sudah lama tidak saya lewati, ya, Viaduct, dulu biasanya tiap hari lewat kolong jembatan ini, kadang satu hari bisa 2-3 kali, sekarang jalur menuju kearah sana belum tentu 2 minggu sekali.
Sebelum lewat Viaduct, dari arah Asia Afrika, tentunya melewati Jalan Cikapundung dan masuk menuju Jalan naripan yang hanya sepotong dan berbelok kearah Jalan Braga, disinilah asal muasal istilah Paris Van Java bermuara. Dahulu kala, jaman kuda masih gigit besi dan internet masih seperti sedia kala, Jalanan ini setiap sorenya penuh dengan muda-mudi yang senang berpelesir, karena daerah ini merupakan pusat perbelanjaan yang pada waktu itu amat berkelas, dan juga tempat anak nongkrong MTV jaman Baheula Hang Out, di malam hari, daerah ini seperti Paris dimana banyak pelacur yang berkeliaran yang menyaru sebagai anak-anak nongkrong, mirip kejadiannya dengan Dago sekitar tahun 90an-2000an (kalau sekarang ga tau dimana) ya pokoknya gitulah ceritanya.
Sebetulnya bukan hal itu yang hendak saya bahas, melainkan mengenai gambar yang ada di postingan ini. Jika tembok ini adalah sebuah website dan memiliki hit Counter, pastilah ia akan menunjukkan traffic yang tinggi, kenapa? Setiap melewati Jalan Braga dan melihat ke tembok ini, pastilah ada minimal 2 orang yang sedang berfoto, atau segerombolan orang-orang yang berfoto menggunakan latar belakang tembok tua ini, dan tidak tanggung tanggung, bergaya ala retro pun mereka lakoni, Kreatif, untungnya tidak ada orang yang memungut bayaran untuk setiap foto yang dijepret dengan latar belakang tembok ini. Percaya atau tidak, teman-teman saya yang sering memotret juga sering memoto tembok ini, ada apa ya dengan tembok itu ?
FYI, toko dimana tembok itu berada sebetulnya dijual, sudah bertahun tahun tidak laku, apa karena hokinya habis dibawa yang berfoto ? Wallahualam..