Pak Itoc, Jangan hanya Mikirkan Ekonomi Terus ! :p – Mengenai Konservasi Bandung Utara

Saya pernah bertemu dengan Bapak Itoc Tochija, Walikota Cimahi ini dalam acara yang diselenggarakan oleh SBM ITB, 2 tahun lalu. Walikota ini Namanya mendadak mencuat setelah peristiwa Tragedi Leuwigajah yang terjadi 1 tahun lalu.

Pagi ini saya membaca koran Tribun Jabar, di halaman depan yang membahas mengenai Konservasi Bandung Utara Jadi Polemik. Suara Pak Itoc yang ditulis di harian ini, dan juga harian Pikiran Rakyat mewakili keinginan dari pejabat dari 3 daerah, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Cimahi. Yakni meminta agar Raperda yang mengatur penanganan Kawasan Bandung Utara (KBU) Tidak hanya berorientasi kepada persoalan lingkungan, tetapi juga harus menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan teknologi.

Yak, usulan yang bagus Pak, tetapi jika Kita melihat permasalahan yang juga sempat dibahas oleh Bapak mengenai Tidak mengubah kondisi yang sudah ada begitu saja, nampaknya perlu ada sedikit gebrakan dari pihak Dinas Tata Kota untuk menata (ulang) kehidupan kotanya. Mungkin dulu Pemda telah membuat tindakan yang kurang tepat dengan mengizinkan pihak pengembang untuk mengembangkan Kawasan Bandung Utara menjadi perumahan dan kawasan elit. Tetapi jika kita lihat efek sampingnya sekarang, Air susah Pak!

Jika di kawasan Dago (daerah atas) tempat saya tinggal (ngekos), sebuah sumur bor milik Ibu Kos saya harus digali sedalam 90 meter, baru menemukan air, dan itupun yang keluar kecil, karena harus berebutan dengan tetangga. Kenalan saya yang tinggal di daerah KBU beberapa diantaranya mereka harus membeli air untuk mck karena air yang keluar dari tanah dianggap kurang layak.

Dilihat dari segi pendapatan daerah, kawasan yang jika dibuat perumahan elit ini harganya cukup mahal, dan jika dibuat tempat wisata seperti rumah makan kelas atas yang sekarang menjamur dikawasan itu, pajak yang datang tentunya amat menggiurkan. Jika saya adalah pejabat pemda, tentunya hal seperti ini harus semakin banyak saya buat, tetapi apakah pernah pejabat pemda memikirkan efek jangka panjangnya ? selain yang saya sebutkan tadi, kesulitan mendapatkan air, jika Bapak pagi hari berjalan kaki atau naik sepeda / motor kearah KBU, silakan hirup udara dalam dalam, saya yakin Bapak Bapak pejabat akan batuk, karena yang Bapak hisap adalah udara kotor bekas dari kendaraan bermotor yang pada pagi hari turun kepermukaan.

Kondisi yang ada, mungkin perlu diperbaiki, dan rencana untuk membangun di KBU, sebaiknya dikurangi atau dihentikan saja, sehingga tidak lagi merugikan lingkungan, atau membuat rencana tata kota baru yang ramah lingkungan, aspek kelangsungan hidup dimasa datang jangan lupa dimasukkan, biasanya hal ini tergantikan dengan jumlah rupiah yang besar.

Pertanyaan saya, bagaimana bisa kita membuat sebuah kehidupan sosial ekonomi yang berbasiskan teknologi jika lingkungan di KBU tidak dijaga kelestariannya, jika perlu, bongkarlah bangunan yang tidak memiliki izin RESMI, alias izin bodong (nyogok). Bukan maksud saya untuk mengajak rekan-rekan Pak Itoc untuk menjadi Pahlawan kesiangan, Pak, Pliss pikirkan kehidupan anak dan cucu Bapak nanti, Nggak lucu kan, kalau dikemudian hari saya telah memiliki anak dan cucu, main ke kota Bandung, yang dilihat hanyalah gedung bertingkat dan Factory Outlet yang ada dimana-mana… Kemana Bandung yang katanya Kota Bunga ? dan pemandangan gunung yang hijau?

PS: Bukan nyindir, Bukan ngejek, saya bukan orang lingkungan apalagi orang tata kota, saya juga bukan warga Cimahi. Hanya warga kota biasa yang sadar akan lingkungannya.

8 comments

  1. Turut berduka cita…
    keluarga aye (Bapak.. dan sekarang adik perempuanku serta sepupu dan tanteku [belum nikah]) tinggal di Bandung, dimulai dari Bapak sejak kuliah tahun 70-an, mulai punya rumah tahun 80-an..

    Iyah..
    Dulu Bandung itu sejuk sekali..
    Sekarang.. 🙁

    Dan air juga susah sekarang..
    *keluarga di daerah Buah Batu
    *aku sendiri bersama Ibu masih di Jakarta

  2. Susah bikin kota bandung jadi kota modern, bandung dah sempit kalo mau bikin aja kota baru lagi disekitar bandung….jadi dimulai dari nol lagi. Kan bisa itu sawah2 dijadiin kota nah senagai gantinya penduduk (dan keluarganya)sekitar yg tanahnya diembat diberi jaminan pekerjaan sampe mereka tua, gitooo…. jujur gw sekarang suka ngelamun gemana cara mensejahterakan rakyat Indonesia.Yang ada di otak sekarang adalah bikin kota, kawasan industri dan pelabuhan.Masuk akal ga?Coba lo pikir kenapa jakarta, semarang, surabaya dan makasar bisa jadi kota besar? Karena mereka punya pelabuhan.Gw orang Purwokerto dan gw suka ngeliatin atlas maksudnya gw lagi cari tanah kosong (cuma mngekamun)deket pantai yg bisa dibuat kota. Dan gw nemu beberapa tempat di Sumatra luasnya kira2 80kmpersegi atau 4 kali luas jakarta, keuntungan lainnya Sumatera berada di jalur pelayaran Eropa-Asia…. ini bukan angan2 semua ini bisa diwudujkan kalo ada kemauan.Lo pikir aja gede sumatra tuh ampir sama Malaysia tapi kenapa Malaysia bisa lebih maju?

  3. udah susah baru mikirin solusi..knp ya pemerintah kita tdk slalu memperhitungkan dampak dari suatu kebijakan….mikirin PDA terus tanpa mengidentifikasi dari akibat yang akan muncul lingkungan udah rusak baru inget tentang menjaga konservasi ..
    bingung dechh. pak merhatiinnya..
    ?/!2$#……..

Comments are closed.