Oddisey – Opera Drama Inspired by SBM for Charity

“Buseeet… ni drama keren abis… ga nyesel gw dateng”
“Gila… tu orang ngocol abis… gw ampe ngga kuat ketawa… lemes”
“Keren Banget nih… selamet buat anak SBM atas kerja kerasnya..”
“Wah… sukses yaaa…. keren abis tadi….”

Kata kata tersebut terlontar dari para penonton yang menyaksikan acara pementasan Drama ODDISEY – Opera Drama Inspired by SBM for Charity.
Acara yang diselenggarakan pada hari Rabu, 27 Juli 2005, bertempat di Teater Tertutup Taman Budaya Dago Tea House Bandung ini amat meriah dan spektakuler. Dihadiri oleh lebih dari 600 penonton dengan harga tiket hanya dua puluh ribu rupiah dan 100% dari hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada sebuah SD di kawasan Lembang yang kondisinya benar-benar memprihatinkan.

Tiket pertunjukan ini terjual habis alias SOLD OUT satu hari sebelum acara, dan amat disayangkan karena di ticket box sendiri, sudah habis terjual jauh jauh hari sebelum acara dimulai. Jadi tiket yang masih bisa dibeli hanya tiket yang dijual di mahasiswa saja. Di mahasiswa SBM sendiri, tiket sudah habis ketika menginjak tanggal 27 juli pagi..

Beberapa calon penonton tampak kecewa karena mereka sudah datang jauh-jauh, bahkan ada yang dari luar kota Bandung hanya untuk menonton acara ini – tetapi tidak kebagian tiket – karena mereka pikir bisa membeli langsung disaat acara berlangsung.

Show dimulai pukul 19.15 tepat oleh MC Chika & Utha.. lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Dean SBM ITB – Prof. Surna Tjahjadiningrat, lalu dimulai dengan drama yang dimainkan oleh kelompok Jali-Jali – dengan dramanya yang berjudul Real Lies, lalu diteruskan dengan pemutaran film mengenai SBM.

Drama kedua yang berjudul Alamak Djin diperankan dengan baik oleh kelompok NungNing-NungNing. Drama ini merupakan drama terfavorit dari para penonton, karena sifatnya yang berupa komedi yang ringan dan mudah dimengerti.

Acara dilanjutkan dengan permainan band oleh Hok-Band – entah mengapa namanya mirip dengan salah satu penyedia makanan cepat saji – lalu tibalah giliran kelompok USB alias U See Bananas – yang membawakan drama yang berjudul The Admirer – merupakan salah satu cerita yang menarik mengenai percintaan.

Hok-Band kembali tampil – kali ini lebih meriah, lalu tibalah saatnya untuk kelompok Nusantara yang membawakan Bunga Rampai-nya, drama klasik ini menceritakan mengenai kehidupan tradisional yang amat menarik.

Tibalah saatnya acara ini harus berakhir, sedih memang, mengingat perjuangan kami selama Semester tiga (pendek) ini yang penuh keluh kesah dan pengorbanan yang tidak sedikit dari materiil dan moril…

Turut hadir dalam acara ini, Menteri Perhubungan – Bapak Hatta Radjasa, dan juga Alumni ITB lainnya – yang mendukung SBM secara penuh.

Sayang… saya tidak sempat foto-foto apapun disini, karena tugas saya yang cukup berat, menjadi seorang music director di kelompok saya sendiri, dan turut membantu kelompok-kelompok lain…. tetapi rekan saya ada yang memfoto… nanti akan saya minta dan saya publish beberapa foto-fotonya disini… mungkin beberapa hari lagi… 🙂

One comment

  1. thanks buat comment-nya..
    sepakat, filternya harus kuat..
    Lagian siapa jg yang maksud jadi idealis yang fanatis? i don’t like that phrase..! seems a little bit judging..!
    gak nyangka ada anak sbm yang ngomentarin..
    tau kan di mata anak itb yang lain kalian gimana?
    menyebabkan revolusi image itb dan sosial yang memakan ongkos besar..
    harusnya..bijaknya rendy yang ternyata kritis jg berpikir..kenapa orang yang masuk sbm musti punya duit banyak? seharusnya kalian perjuangkan,,agar yang masuk sbm bisa semua orang…or you may ask..”sebenernya esensi pendidikan di sbm apa sih?”
    tapi, terimakasih sudah mengingatkan..
    But i’m not that extreme..[semoga]
    tapi saya emang gatel..sama budaya yang sudah carut-marut..
    btw, odissey tu bukannya harusnya spellingnya odyssey..?apa beda lagi…Ouw..i see…cuma plesetan dowang yak?
    salam kenal..
    Rendy pasti angkatan 2004 ya? saya farmasi 2001..sekarang aktif di kongres KM ITB..Main2 yak, ke KM..!

Comments are closed.